Support System

“Emang nggak cape ya ngurusin anak sendiri juga sambil ngurus kerjaan? Nggak stress gitu?” tanya teman saya sambil gendong Anansa yang beratnya 9,5kg. Mungkin gara-gara gendong Anansa yang beratnya lumayan juga, spontan dia melontarkan pertanyaan itu.

Hmm…kalau cape sih udah pasti cape pake banget. Kayaknya 24 jam sehari nggak cukup. Dini hari pun, saat anak terlelap, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di siang hari, plus tetap stand by kalau si anak bayik tiba-tiba bangun. Puji Tuhan saya nggak pernah stress apalagi depresi.

“Kok bisa sih? Trus nggak pernah complain atau ngomel-ngomel ke suami?” Iya yah makin ke sini, saya jarang banget mendekati hampir nggak pernah ngomel-ngomel ke suami (karena biasanya I’m the number one Mrs complaining). Setelah dipikir-pikir, justru faktor utama bukan berasal dari diri saya sendiri. Saya tersadar bahwa yang bikin saya jauh dari post partum depression adalah karena saya selalu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berpikiran positif dan suportif. Thanks to the greatest support system I have!

Yup, a good support system is very important. Apa sih maksudnya support system?

: a network of people who provide an individual with practical or emotional support

Merriam-Webster

Pernah nggak denger cerita orang tua yang sering menganggap bahwa anak-anaknya tidak becus mengurus anak, pada akhirnya mereka “take over” si cucu dan menerapkan gaya “kuno” yang mereka anggap paling benar? Sering banget! Masalah klasik dan klise. Dan akhirnya berantemlah si anak sama ortu yang membuat support system tidak suportif lagi.

Lucky me, keluarga saya, khususnya ortu, bukan ortu yang suka mencampuri urusan anak-anaknya, termasuk urusan merawat dan membesarkan anak. Your kids, your way…itu prinsip ortu saya. Bisa dibilang sampai saat ini intervensi mereka sangat minim hampir tidak ada untuk urusan membesarkan si anak bayik ini. Nggak pernah saya denger mereka bilang “Anansa makan ini aja, soalnya ini lebih bergizi dibanding itu.” atau “Anansa jangan dikasih itu nanti bisa ini”.Never! Semua keputusan tetap di tangan saya dan suami. Kelihatannya sepele ya, tapi menjadi ortu baru perlu proses dan latihan. Terutama buat para ibu untuk memupuk rasa percaya diri sebagai seorang ibu. Jadi, jangan diintervensi prosesnya ya Oma-Oma. Bayangin aja nih ya, misalnya seorang ibu baru mau suapin anak, tiba-tiba si Oma ngoceh “Wah salah tuh suapinnya, harusnya bla bla bla” Nah lo! Yang ada malah si ibu ini makin nggak pede (dan makin KZL pastinya). And you know what, an unhappy mom equals an unhappy kids. Udah fixed rumusnya begitu. Nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar, tapi kalau salah pun kan bisa belajar dari kesalahan. Namanya juga lagi belajar jadi mama-mama, ya nggak buk-ibuk?

Selain ortu, hubungan antar saudara juga penting. And again lucky me, my siblings (and in laws) bukan tipe yang rese suka banding-bandingin. Kan ada tuh ya yang kerjaannya kalau ketemu nyerocos “si A udah bisa ini lho” atau “si B dulu nggak gitu deh”. Ya pokoknya selalu membandingkan. Padahal ya, prinsip nomor 1 saat membesarkan anak adalah: tiap anak unik & pintar dengan caranya masing-masing. Saudara kandung aja karakter & sifat tiap anak aja beda, apalagi saudara sepupu. Jadi nggak bisa atuh dibuat komparasi.

Back to my siblings. Thank God, Anansa punya uncles dan aunties yang baik banget. Mau jagain Anansa, mau ajak main, mau gendongin kalau mamanya sibuk kerja (meskipun ya lumayan gempor juga sih kalo gendong lama), sering beliin pernak-pernik yang lucu-lucu. Dewa penolong banget deh pokoknya. Ini yang bikin suasana rumah jadi nyaman dan hangat, jadi saya juga nggak jadi stress.

Jadi kalau menurut saya, keberhasilan membesarkan & mendidik anak kuncinya ada pada support system. Kalau ada problem, bukan si anak yang diteliti tapi support system-nya yang perlu dibenerin.

img_6504
happy parents = happy baby. Thank you Oma, Opa, Aunty, Uncle, Kakak for giving the best support to papa, mame, and me. Photo by Aunty Illa

 

 

 

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Flora says:

    Hehe, aku termasuk yang ‘kebagian’ jadi babysitter untuk 2 keponakan saat mamanya cari uang tambahan di weekend. Kadang repot, tapi seringkali nyenengin dan ngangenin kalo keponakan nggak ke rumah. Yaah sambil belajar jugaa siapa tahu segera diberi rezeki hamil, jadi udah biasa ngadepin polah lucu dan cranky bocah-bocah… Anyway, blog mba seru banget dibaca sama aku yang sedang banyak cari tahu tentang kehamilan 🙂

    -nengflora.blogspot.com-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s