Meet The Doctors

Memasuki minggu ke-31 kehamilan, terhitung sudah 6 obgyn yang kami datangi sejak awal menikah. Banyak amat? Lha soalnya tiap obgyn punya cerita tersendiri. So, let’s meet the doctors, shall we?

dr.Ardiansjah Dara S,SpOG (@dokterDara)

Pertama kali bertemu dr. Dara di RS. MRCC Siloam Semanggi, Jakarta. Waktu itu kami baru nikah dan tinggal di daerah Sudirman, jadi RS terdekat adalah MRCC Siloam Semanggi. Kalau nggak salah cuma dua kali kontrol ke dr. Dara. Pertama, karena ada keluhan dan yang kedua tes Pap Smear. Trus, abis itu pindah dokter karena udah nggak tinggal di daerah Sudirman lagi.

Meskipun dr. Dara terbilang dokter yang masih muda, beliau cukup informatif dalam memberi penjelasan. Karena baru 2x ke sana dan bukan dalam rangka kontrol hamil, jadi aku nggak bisa kasih review lebih. Terakhir konsultasi dengan dr. Dara saran beliau adalah untuk segera hamil hehehe Kalau mau konsultasi dengan dr. Dara, harus daftar dulu 1-2 hari sebelumnya melalui hotline MRCC Siloam Semanggi, setelah sampai di RS, lapor ke bagian pendaftaran dan mengambil nomor antrian.

Prof. dr. Soehartono DS, SpOG, KFER

Ketika mengetahui bahwa saya positif hamil, posisiku saat itu adalah di Surabaya. Jujur, I’m totally clueless mengenai dokter kandungan & kebidanan di Surabaya. Akhirnya, setelah nanya kanan-kiri dan berdasarkan faktor jam terbang si dokter, diputuskanlah untuk daftar di Prof. dr. Soehartono. Daftar siang harinya untuk datang malamnya (maklum namanya juga anak baru) dapat nomor antrian 42 dan disarankan untuk datang sekitar pk.22.30.

Malamnya saya datang pk.23.00, suasana ruang tunggu maish rame dengan bumil, dan ternyata masih nomor antrian 11 aja saudara-saudara… *shocked* Trus, nanya ke susternya kira-kira kalau nomor 42 berapa lama lagi, kata si suster nggak bisa dibilang jam berapa. Lha trus piye? Bisa sampai pagi dong! Bisa kata susternya biasanya juga sampai jam 2-3 pagi. OMG! Karena udah terlanjur bete karena banyak hal, plus ngantuk, dan cape (karena abis pulang kerja juga), akhirnya taktinggal aja. Pas cerita ke Asa, dia juga keberatan dan kurang setuju kalau ibu hamil (apalagi istrinya yang manis manja ini) harus antri di dokter sampai dini hari. Kalau mamaku lain lagi, doi kurang sreg soalnya tempat praktiknya desainnya kurang ok dan tidak uplifting mood si bumil (kalo ini dilihat dari insting sebagai seorang arsitek). Emang sih, ruang tunggunya agak temaram gitu malah cenederung gelap. Aku sih memang lebih uska tempat praktik yang bergaya minimalis, terang gitu… (ini mau cari obgyn apa rumah ya sebenernya?!?). Nah, kalau yang ini beneran nggak bisa kasih review tentang dokternya, soalnya nggak pernah ketemu dokternya sampai detik ini hehehehe….

dr. Widohariadi, SpOG

Setelah drama ke-BT an di dokter sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter yang paling deket dari rumah (udah diambil yang paling gampang dulu: jarak tempuh!), yaitu di RS Premier Surabaya (dulunya HCOS) dan karena kalau malam lebih gampang capek, dicarilah dokter yang praktik siang, cuma ada 1 dokter yaitu: dr. Widohariadi. Beliau termasuk dokter senior dan ternyata dr. Wido adalah dokter pengganti sewaktu adik saya lahir (tapi nggak keburu dateng dokternya, anaknya udah mbrojol duluan…)

Sepertinya saat itu, saya pasien pertama beliau di hari itu, jadi nggak pake lama nunggunya. Setelah dicek melalui USG, dr. Wido memastikan bahwa saya positif hamil (Puji Tuhan!) dan usia kandungan sata itu sekitar 4-5 minggu. Saran beliau cuma satu: harus bersyukur karena hamil itu adalah anugrah. Menurut dr. Wido, trimester pertama cukup rawan keguguran kalau nggak betul-betul dijaga. Kunci utamanya adalah di pikiran: nggak boleh stress dan cara agar tidak gampang stress ya itu tadi harus selalu bersyukur. Bijaksana sekali dokter ini 🙂

dr. Wido juga menyarankan untuk melakukan test TORCH untuk memastikan kondisi tubuh terbebas dari virus-virus Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus (HSV) yang tentunya berbahaya bagi perkembangan janin. Bahkan test ini harusnya dilakukan sebelum kehamilan, yaitu pada saat merencanakan kehamilan.  

Setelah selesai konsultasi dengan dr.WIdo, saya sebenarnya sudah sreg dengan dokternya. Almost tick all the boxes: senior, sabar, bijaksana, santai sehingga bumil selalu merasa aman, jam praktiknya pun ok, yaitu di siang hari jadi saya masih dalam kondisi fresh. Cuma ada beberapa hal yang bikin nggak sreg: fasilitas di RS tersebut, suster-susternya cuek banget: berat badan nggak ditimbang, tensi juga nggak diukur, dan satu lagi yangbikin turn-off: mesin USG nya kuno banget, dan untuk harga kontrol di RS terbilang cukup mahal kalau dibandingkan dengan fasilitas yang didapat. Total konsul ke dr. WIdo hanya 2x, akhirnya kami memutuskan untuk mencari lagi dokter yang lain.

Dr. dr. H. Amang Surya P, SpOG

Pertama kali tahu dr. Amang dari forum di dunia maya: femaledaily. Beberapa member di forum tersebut merekomendasikan dr. Amang karena berbagai alasan, antara lain: dokter yang nggak pelit kalau kasih penjelasan dan peralatan di tempat praktiknya (Total Life Clinic) lengkap dan modern. Ada juga seorang teman yang konsultasi kehamilan anak pertama & kedua di dr. Amang , tapi sewaktu hamil anak ke-3, dia mencari dokter lain karena nggak kuat sama antriannya. Memang sih, keluhan yang sama juga diutarakan di forum tersebut, yaitu: selalu ngantri!

Sebenernya udah eneg sama yang namanya ngantri lama, tapi jadwal praktik dr. Amang ada yang siang, yaitu di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kalau aku pribadi sih, selama ngantrinya nggak malem menjelang subuh, masih kuat lah. Akhirnya daftar melalui telepon seminggu sebelumnya dan mendapat nomor antrian 14, disarankan untuk datang pk.15.30. Pada hari H, aku mendapatkan SMS reminder mengingatkan ada jadwal kontrol. Setelah nunggu kurang lebih 1,5 jam, akhirnya dipanggil juga ke ruang periksa.

Meskipun dr. Amang praktik di klinik privat (Total Life Clinic), tapi semuanya tersistem dengan baik. Saat pertama kali datang kita akan diberikan semacam welcoming pack, yang isinya: kartu pasien, agenda kehamilan (yang ini berguna banget), dan voucher dari laboratorium Pramita. Nggak gratis sih dan harus bayar tapi menurut saya cukup worth it kok, apalagi buku agenda kehamilan yang akan selalu di-update setiap kali kita kontrol, jadi bumil & pakmil selalu bisa memantau medical record sendiri.

Menurut saya pribadi, dr. Amang informatif dan komunikatif. Nggak pelit jawaban kalu ditanya-tanya. Peralatannya memang sangat modern, misalnya mesin USG yang diproyeksikan ke tembok, jadi bumil bisa langsung lihat ke depan (nggak harus nengok2 lagi). Setelah diperiksa USG (2D dan 4D singkat), akan diberikan hasil print-nya yang bisa dibawa pulang. So far so good. Total Life Clinic sendiri klinik terpadu untuk ibu dan anak, jadi lengkap semuanya ada di satu tempat, termasuk kelas prenatal yoga di Lineage (lt.3).

Untuk biaya konsultasi di Total Life Clinic memang terbilang cukup mahal dan banyak biaya lain-lain (misalnya: surat keterangan terbang, biaya pendaftaran tiap kali kunjungan). Tapi dengan fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan, rasanya memang setimpal dengan biaya yang dikeluarkan. Saya sendiri total sudah 5x konsultasi dengan dr. Amang (dari bulan ke-2 sampai ke-6), tetapi di bulan ke-7 akhirnya saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di Jakarta.

dr. Didi Danukusumo, SpOG

Karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya wira-wiri Jakarta Surabaya selama kehamilan, maka kami wajib mencari satu obgyn lagi yang praktik di Jakarta. Kalau di Surabaya, jarak masih menjadi prioritas ke sekian, nah lain di Jakarta karena tau sendiri traffic di Jakarta yang teramat parah. Jadi, jarak antara rumah dan tempat praktik dokter haruslah yang mudah dijangkau. Faktor kedua yang menentukan adalah tempat praktik dokter harus di RS. Alasannya, kalau ada emergency situation, bisa langsung dilarikan ke RS tersebut dan dokternya bisa langsung menangani (or at least in line procedure with the doctors).

Ada 2 pilihan RS terdekat, yaitu RS Pondok Indah (RSPI) dan RS Premier Bintaro (dulu: RS International Bintaro). Berdasarkan rekomendasi teman, akhirnya kami memutuskan untuk ke RS Premier Bintaro untuk berkonsultasi dengan dr. Didi Danukusumo, SpOG. Menurut teman saya, dr. Didi sangat ahli dalam USG. Teliti. Satu per satu bagian dijelaskan. USG nya aja bisa 20 menit sendiri. Dan memang benar apa yang dikatakan teman saya, dr. Didi benar-benar sabar menjelaskan secara detail tanpa terburu-buru, padahal waktu saya konsultasi jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Nah, minusnya… lagi-lagi masalah antrian. Kali ini lebih seru! Jika ingin berkonsultasi dengan dr. Didi di RS Premier Bintaro harus buat appointment via telepon 1 hari sebelumnya dan/atau datang langsung ke RS di hari H. Tapiii… ada kuotanya. Per sesi, dr. Didi hanya menerima 10 pasien yang mendaftar via telepon dan 10 pasien yang mendaftar langsung di hari H pagi hari saat RS baru buka (kurang lebih jam 6 pagi). Ketika saya tidak berhasil mendapat nomor antrian via telepon, maka Asa yang daftar langsung di RS pagi-pagi buta dan dapat nomor antrian 15. Kalau menurut petugas yang jaga di RS, kami termasuk beruntung karena jam 6 pagi masih dapat nomor, biasanya jam segitu sudah habis nomor antrianya… *melongo*

Anyway, akhirnya kami berdua mengurungkan niat untuk melanjutkan konsultasi ke dr. Didi ya karena suami sempat ngorok di ruang tunggu RS saat menunggu dipanggil  ya faktor antrian yang panjang itu bikin saya teler, suami tambah teler. Saya yang malah nggak tega sama suami yang abis macet-macetan pulang kerja nganterin kontrol trus begadang di ruang tunggu besok paginya harus bangun pagi-pagi kena macet lagi. Meskipun dokternya ok bingits, tapi ya masa harus segitunya ya…

dr. F.X Bhimantoro, SpOG

Hopefully this doctor will be our final obgyn until the delivery day. Ceritanya nggak sengaja kontrol di dr. Bhim soalnya cari dokter yang hari itu praktik. Waktu itu (masih) kepikiran gegara mimisan dan kaki bengkak pas lagi di Bandung, jadi bawaannya buru-buru pengen periksa aja. Ternyata kami berdua ngerasa klop banget sama dr. Bhim, orangnya sangat informatif, maunya kita yang nanya terus. USG juga sangat detail, dijelasin bagian per bagian. Sangat suportif dan menenangkan cenderung santai. Dan, dari obgyn #1 sampai #5, baru kali ini kami berdua langsung setuju (biasnaya pake acara debat dulu). Di akhir pertemuan kami yang pertama, dr. Bhim kasih kartu namanya dan beliau berpesan “Kalau ada apa-apa, hubungi saya aja langsung, lewat WA juga boleh”…. Yes! He’s the one we’re looking for! 

So far, sampai hari ini, kami sudah 3x kontrol dan merasa sangat puas dan nyaman… ya dengan dokternya, dengan suster-susternya yang sangat helpful, ruangan tunggu & ruang praktik yang cozy, peralatan serba modern, semua data terkomputerisasi dengan baik, dan nggak ketinggalan makanan di kantin RSPI yang tersohor enak itu (emang enak sih!). Kegiatan jajan di kantin RSPI ini jadi agenda wajib abis kontrol dokter. We never missed any single visit to the canteen hahaha

RSPI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s